Ada masa ketika hati tidak lagi berjalan di satu jalan yang lurus. Ia mulai mengenal persimpangan. Di satu sisi ada keteguhan hati, di sisi lain ada kesetiaan pada pilihan hidup, dan di sisi yang lain lagi ada perasaan yang datang tanpa pernah diminta.
Mungkin tidak semua orang akan memahami kekacauan seperti ini. Bagi mereka yang hidupnya berjalan dengan tenang, cerita seperti ini mungkin terdengar aneh, bahkan dianggap menyimpang. Namun bagi seseorang yang sudah melewati begitu banyak fase kehidupan, luka, kehilangan, dan berbagai persoalan yang menguras jiwa, kekacauan hati bukanlah sesuatu yang asing.
Ada kalanya aku bertanya, bagaimana rasanya bisa berdoa bersama dalam satu Tuhan dengan seseorang yang kita cintai? Lalu bagaimana jika kenyataannya, hati justru bertemu dengan seseorang yang memiliki keyakinan yang berbeda?
Yang lebih sulit lagi, mengapa perjumpaan seperti ini harus datang ketika kehidupan sudah berada di pertengahan jalan? Ketika pondasi keluarga sudah dibangun, ketika tak ada lagi ruang untuk kembali ke masa lalu. Kita tahu ada batas yang tidak boleh dilanggar, tetapi kita juga tidak bisa menyalahkan perasaan yang muncul begitu saja.
Perasaan memang tidak pernah meminta izin untuk datang. Ia hanya hadir, lalu mengajarkan bahwa tidak semua yang indah ditakdirkan untuk dimiliki.
Mungkin benar, ada orang-orang yang hanya dititipkan untuk dikagumi, bukan untuk dimiliki. Kehadirannya cukup untuk mengingatkan bahwa hati kita masih mampu merasakan, meski pada akhirnya harus belajar melepaskan.
Sering kali aku ingin bertanya kepada Tuhan.
"Mengapa cara-Mu begitu rumit? Mengapa Kau menghadirkan seseorang pada waktu yang tidak mungkin? Bukankah hidupku seharusnya sudah tenang?"
Barangkali Tuhan tidak sedang ingin mengacaukan hidupku. Mungkin Dia hanya sedang mengajarkan bahwa cinta bukan selalu tentang memiliki. Ada cinta yang cukup disimpan dalam doa, dijaga dalam diam, lalu diikhlaskan sebagai bagian dari perjalanan hidup.
Dan mungkin, kedewasaan bukanlah saat hati berhenti mencintai. Melainkan ketika hati mampu menerima bahwa tidak semua rasa harus diperjuangkan untuk menjadi milik.
Kadang, bentuk cinta yang paling tulus adalah membiarkannya tetap menjadi cerita yang indah... tanpa pernah menjadi akhir yang kita inginkan.
0 komentar:
Posting Komentar