Aku berada di tempat yang aneh. Tidak cukup penting untuk diperjuangkan, tetapi juga tidak benar-benar dilepaskan. Bukan seseorang yang dipilih, tetapi kehadirannya seolah tetap ingin dipertahankan. Ada ada, tetapi tidak pernah tahu sebenarnya sebagai siapa. Dan yang paling melelahkan dari semua itu adalah perasaan yang tidak memiliki ujung.
Aku tidak pernah benar-benar memilikinya, tetapi ketika dia menjauh, rasanya seperti kehilangan. Aku tidak punya hak untuk menuntut, tetapi diam-diam merasa terluka. Aku tahu ada janji yang pernah diberikan, tetapi hati telanjur membangun begitu banyak kemungkinan tanpa kepastian hubungan.
Mungkin memang tidak ada yang salah dengan perasaan kita. Menyukai seseorang bukanlah kesalahan. Berharap juga bukan sesuatu yang harus disesali. Kita hanya manusia yang terkadang terlalu lama bertahan karena percaya bahwa ketulusan, pada akhirnya, akan menemukan jalannya. Namun, ada saatnya kita harus berhenti bertanya mengapa dia tidak memilih kita, lalu mulai bertanya kepada diri sendiri: mengapa kita terus tinggal di tempat yang membuat kita merasa tidak cukup berharga?
Kita tidak bisa memaksa seseorang untuk mencintai dengan cara yang kita inginkan. Kita juga tidak bisa menjadikan kesabaran sebagai alasan untuk terus menunggu sesuatu yang tidak pernah dijanjikan. Sebab, sebaik apa pun kita memperlakukan seseorang, keputusan untuk tinggal dan memperjuangkan tetaplah miliknya.Barangkali, yang perlu aku pelajari bukan bagaimana membuat dia akhirnya memilih aku, melainkan bagaimana menerima bahwa aku tidak selalu mendapatkan apa yang aku harapkan, bahkan ketika perasaan aku begitu tulus.
Aku ingin terus menyalahkan diri sendiri karena pernah berharap dan menghukum diri sendiri dengan bertahan pada harapan yang sama. Sebab, ada perbedaan antara memperjuangkan seseorang dan mengabaikan diri sendiri demi mempertahankannya.
Pada akhirnya, aku perlu memahami bahwa tidak semua orang yang ingin aku pertahankan memang ditakdirkan untuk tinggal. Ada yang hadir hanya sebatas persinggahan, ada yang memberi kenangan tanpa kepastian, dan ada pula yang mengajarkan aku betapa sulitnya melepaskan sesuatu yang bahkan tidak pernah benar-benar menjadi milik aku.
Mungkin, aku memang tidak bisa mengatur siapa yang datang dan siapa yang pergi. Tetapi, kita selalu punya pilihan untuk tidak terus-menerus menunggu di tempat yang sama. Aku tidak harus membenci kamu. Tidak juga harus menghapus semua kenangan yang pernah ada. Cukup berhenti menjadikan kemungkinan sebagai alasan untuk menunda kebahagiaanku dan benih cinta kita sendiri.
Karena terkadang, kehilangan yang paling menyakitkan bukanlah kehilangan seseorang, melainkan kehilangan begitu banyak waktu, ketenangan, dan bagian dari diri kita sendiri hanya untuk menunggu seseorang yang tidak pernah benar-benar memilih kita. Dan mungkin, pada suatu hari nanti, kita akan menyadari bahwa yang selama ini kita tunggu bukanlah dia untuk kembali, melainkan keberanian dalam diri sendiri untuk berhenti berharap. Bukan karena perasaan itu sudah tidak ada, tetapi karena kita akhirnya mengerti bahwa mencintai seseorang seharusnya tidak membuat kita terus-menerus merasa tidak berarti.Aku ingin membiarkan dia dengan pilihannya. Dan biarkan diriku sendiri memiliki kesempatan untuk bahagia, tanpa harus menunggu seseorang menentukan apakah aku dan benih cintanya layak untuk diperjuangkan.



























