Aku tidak menyesal telah mencoba, sebab kakiku melangkah di jalan yang memang seharusnya kutempuh. Aku mengetuk pintu dengan tangan yang sopan, dengan suara yang kutahan agar tetap teduh. Aku datang bukan untuk melawan, hanya untuk didengar.
Setidaknya aku telah berjalan sesuai jalur yang diajarkan, menghormati tata, menjaga sikap, menundukkan ego agar tak lebih tinggi dari iman.
Jika di tempat terdekat tak kutemukan celah cahaya, itu bukan akhir dari terang.
Harapan tidak hanya tinggal di satu ruang, tidak pula berakar pada satu nama. Ia bisa tumbuh di tanah yang lebih jauh, di tangan yang berbeda, di hati yang mungkin lebih lapang.
Dan aku tetap berdiri, tanpa penyesalan, karena aku tahu, aku telah mencoba dengan benar.
Beberapa waktu lalu, aku dapat kesempatan yang cukup bikin jantung deg-degan jadi leader dalam sebuah workshop pemantapan untuk teman-teman perawat dan bidan di rumah sakit tempatku bekerja. Buatku pribadi, ini bukan pengalaman pertama terlibat dalam pelatihan. Tapi kali ini rasanya beda, karena tanggung jawabnya jauh lebih besar. Bukan cuma bantu-bantu, tapi benar-benar memimpin jalannya kegiatan ini dari awal sampai akhir.
Jujur, aku bukan pelatih bersertifikat lengkap. Tapi selama ini aku sering ikut ngurusin diklat internal dan pernah juga jadi pembicara di pelatihan nasional online, kayak Hiperkes untuk tenaga medis. Jadi, meskipun nggak punya “title” resmi, aku tetap berusaha total dan belajar dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, terutama dari orang-orang hebat yang pernah jadi penggerak kegiatan serupa.
Yang bikin makin menantang, workshop ini harus jalan dalam waktu 3 minggu, dibagi jadi 4 batch, dan diikuti sekitar 200 perawat dan bidan. Tantangannya bukan cuma soal materi atau pelaksanaan, tapi juga soal menyusun jadwal yang pas. Bayangin aja: mereka semua tersebar di banyak unit, punya jadwal dinas 3 shift, dan kita tetap harus jaga supaya kegiatan ini nggak ganggu hari libur mereka. Tapi PUJI TUHAN, semua bisa diatur dengan dukungan banyak pihak yang solid.
Selama pelatihan berlangsung, banyak kejadian seru yang benar-benar nggak terduga. Misalnya, perawat yang biasanya kerja di area rawat jalan yang sehari-hari nggak pegang infus ternyata justru tampil jago saat praktik, terutama dalam komunikasi terapeutik dan keluwesan saat hands-on. Di sisi lain, perawat yang dikenal paling jago nge-infus karena tugas di unit favorit malah kelihatan takut saat ditusuk jarum infus, bahkan ada yang hampir nangis dan panik. Di situ aku sadar, pengalaman memang penting, tapi rasa percaya diri dan kenyamanan juga punya peran besar.
Lucunya lagi, beberapa tenaga kesehatan lain yang bukan perawat atau bidan juga pengen ikut belajar infus. Dan, mereka berhasil! Bahkan ada yang langsung bisa pasang infus pakai jarum ukuran besar yang biasanya dipakai buat pasien operasi. Keren banget. Ada juga yang bawa vitamin injeksi sendiri buat dicampur ke cairan infus waktu praktik. Kreatifnya luar biasa!
Tapi dari semua momen itu, yang paling bikin hati hangat adalah semangat para peserta. Meskipun ada yang lagi puasa, nggak enak badan, atau baru aja lepas shift panjang, mereka tetap datang dan ikut kegiatan ini dengan antusias. Bahkan ada yang bilang, “Kapan lagi bisa belajar langsung, bareng-bareng, sambil praktik gini?”
Yang bikin aku makin terharu, nggak ada satu pun dari mentor atau panitia yang mengklaim kesuksesan acara ini sebagai hasil kerja pribadi. Semua bilang ini karena kerja tim. Kita saling bantu, saling topang, dan punya tujuan yang sama: pengembangan diri dan peningkatan mutu layanan.
Setelah semua batch selesai, aku cuma bisa bilang: aku bersyukur banget. Walau sempat minder di awal karena merasa bukan yang paling ahli dalam praktik lapangan, ternyata aku bisa juga memimpin tim dan ngejalanin kegiatan ini dengan baik. Dan sekarang, aku justru makin semangat buat terus berkontribusi, melanjutkan ide-ide seru lainnya yang bisa mendukung peningkatan kualitas tenaga kesehatan di tempatku bekerja.
“Perawat dan bidan bukan hanya bekerja dengan tangan, tapi juga dengan hati. Dan leadership bukan tentang berada di depan, tapi tentang memastikan semua orang bisa maju bersama.”
"Leadership is not about being in charge. It is about taking care of those in your charge." (Simon Sinek)
Dan terakhir, aku mau bilang terima kasih yang sebesar-besarnya buat semua pihak yang udah bantu dan dukung kegiatan ini. Secara khusus, buat dr. Retha, dr. Dewi, Ka Lenny, Mbok Ambar, Eda KC, Mba Lina, Sist Siska, Dede LC, Bro Nunug, Bro Dandy, Bu Empit, semua mentor, vendor alat, sponsor internal maupun eksternal, tim Keperawatan, Farmasi, IT, HRD, Marketing, GAT termasuk teman-teman outsourcing, dan banyak lagi yang nggak bisa aku sebut satu per satu. Kalian semua luar biasa. Tanpa kalian, kegiatan ini nggak akan semeriah dan sebermakna ini.
Semoga semangat kita nggak berhenti di sini. Yuk, terus bergerak, belajar, dan tumbuh bareng demi pelayanan yang makin berkualitas! 💙 Berkalem, Berkah Dalem.
Setelah dua dekade memendam kerinduan, akhirnya langkah kaki ini kembali menjejak tanah Bali — bukan lagi dalam balutan study tour remaja, melainkan sebagai sebuah keluarga kecil yang bertumbuh bersama waktu.
Sejak hari pertama pernikahan, kami tahu bahwa perjalanan seperti ini tidak akan mudah diraih. Pekerjaan yang menuntut tanpa mengenal tanggal merah, ritme hidup yang cepat, dan prioritas keluarga membuat angan-angan honeymoon atau liburan panjang hanya menjadi wacana. Tahun demi tahun berlalu, hingga pada akhirnya, dengan anak pertama yang sudah masuk sekolah dasar dan adik kecilnya cukup besar untuk ikut berpetualang, kesempatan itu tiba.
Tanpa banyak pertimbangan, kami mengambil keputusan nekat — mencari biro perjalanan di sela-sela rutinitas, menemukan "Wisata Bali OKE" lewat pencarian sederhana, dan segera mengunci tanggal keberangkatan. Ramadhan 2025 menjadi saksi keputusan besar itu.
Kami memilih paket tour 3 hari 2 malam, dengan akomodasi di Hotel Grand Livio Kuta yang nyaman dan ramah keluarga. Keberuntungan pun berpihak saat kami dipertemukan dengan Kak Alfan, driver sekaligus tour guide profesional dari Wisata Bali OKE. Dengan keramahan, kesabaran, dan perhatian terhadap kenyamanan anak-anak, Kak Alfan menjadikan setiap destinasi terasa lebih hidup.
Setiap kunjungan ke tempat wisata terasa menyenangkan: tidak terburu-buru, penuh kehangatan, dan sarat cerita. Dari tempat makan pilihan, rute perjalanan, hingga tips lokal, semuanya mengalir alami berkat pendampingan Kak Alfan.
Di hari ketiga, setelah menyelesaikan paket tour, kami memutuskan melanjutkan petualangan secara mandiri. Berbekal pencarian cepat melalui aplikasi daring, kami menemukan Hotel Brits Legian — pilihan yang ternyata melampaui ekspektasi. Dua malam terasa begitu singkat di hotel yang menawarkan kenyamanan luar biasa.
Untuk menjelajahi sudut-sudut Bali lebih bebas, kami menyewa mobil kecil dari Bali Harum Trans, rekomendasi dari seorang sahabat lama Titus, yang akhirnya kami juga sempat berjumpa dengan keluarga barunya di Bali. Mobil kecil yang kami sewa itu membawa kami ke banyak tempat, termasuk ke Gereja Katedral Denpasar untuk mengikuti misa mingguan — sebuah momen spiritual yang mempererat perjalanan batin kami sekeluarga.
Semua berjalan dengan harmoni: rejeki yang datang tepat waktu, kesempatan yang diambil dengan keberanian, dan Bali yang menyambut kami dengan tangan terbuka.
Pulau Dewata, terima kasih untuk kenangan ini. Sampai bertemu lagi — mungkin dalam perjalanan yang lebih panjang, lebih berani, dan tetap penuh keajaiban.
🔊 PLISSS, PATUHI PROTOKOL PEMERINTAH RI & KEMENTERIAN KESEHATAN RI.
(Foto 1: Dokter RMO, Perawat, dan Ns.Teps)
BAB 1
Saya Nurse (Ners), sejak 2010 (lulus) telah terpanggil untuk membantu semampu saya dalam pelayanan kesehatan. Saat ini saya juga membantu dalam memutus mata rantai penularan covid -19 dengan dedikasi saya menjadi perawat.
Setia menjadi garda depan dan perjuangan menjadi pertahanan terakhir, membuat saya menjaga jarak hampir 3 bulan terhadap orang-orang yang paling saya sayangi dirumah yaitu 70th, mertua 65th, suami 35th, anak 2th, ipar 25-32th. TIDAK MUDIK, MENERAPKAN SOCIAL DISTANCING, PERSONAL HYGINE.
BAB 2
Dan ini merupakan kisah saya selama hampir 3 bulan ini dalam pandemi covid-19. Untuk itu saya berterima kasih kepada saudara-saudari terkasih yang mendukung saya selama berperang melawan si koko rona yang kasat mata.
Tuhan Yesus, Bunda Maria, Bapa Yosep
Suami tercinta dr Parmadi, Ananda Brigitta Bellvania, Yangti, Ama Akong, Saudara kandung & saudara ipar, keluarga besar Purwodadi Grobogan, keluarga besar Jakarta, Solo, Sukoharjo Jogjakarta.
Bp.Uskup, Romo, Bruder, Frater, Suster di Indonesia maupun di Luar Negeri, termasuk umat di Paroki Hati Yesus Keluarga Kudus Purwodadi, Paroki Hati Santa Perawan Maria Tak Bernoda Daan Mogot Tangerang, Paroki Santa Maria Pelindung Diangkat Ke Surga Katedral Jakarta, Paroki St.Petrus & Paulus Mangga Besar Jakarta.
Teman-teman sejawat medis di KJ: dokter, nurse, hca, radiografer, plebotomy, dan teman-teman non medis KJ: para admin, FO, Cleaning Service, Team Keamanan, dll, Organisasi PPNI dan kenalan sejawat di tempat lain.
Para sahabat, teman-teman di manapun kalian berada.
Alumni Stikes St. Elisabeth Semarang & Alumni Stikes Bethesda Yakkum Yogyakarta
Siloam Kelapa Dua (KD), pusat rujukan Covid-19 di Tangerang, manajemen, para tim medis maupun non medis, khususnya Para dokter, perawat, volunteer yang bertugas di Lantai 5, Lantai 6, petugas kebersihan, Lab, Radiologi, FO, Sekurity. Plus para survivor medis maupun non medis yg dirawat bersama-sama di KD.
Para simpatisan/pemerhati para tenaga medis maupun non medis yang terpapar di KD.
Pemerintah RI , Kementerian Kesehatan, Keamanan, dan siapa saja yang mendukung dalam memutuskan rantai virus pandemi ini.
(Foto 2 : Berpamitan dgn suami pra isolasi)
BAB 3
□ Februari 2020, protokol kerja saya di Out Patient Department (OPD), Skrining Pengunjung, Staf untuk Mengisi Formulir Kesehatan, termasuk keluhan, riwayat perjalanan. Memisahkan pengunjung/pasien yg beresiko infeksi maupun yang tidak. Alat Pelindung Diri (APD) kerja Level 1
□ 02/03, media mengumumkan Kasus 1 Covid 19, di Depok. 04/03, Pengunjung tidak jujur saat mengisi form kesehatan, bertemu saya di fase interaksi, assesment awal. Setelah di confirm ulang, riwayat tgl 02/03 tiba dari USA, dgn keluhan bapil, demam tinggi, sesak napas. Selain itu mungkin bisa juga terparar dari pengunjung lain yang datang di sarana pelayanan kesehatan bertemu dengan saya dengan riwayat paparan sebelumnya.
(Klik tanda play ➧ untuk memutar video diatas)
□ 11/03, media mengumumkan kasus covid meninggal di RI pertama kali. Saya mengalami suhu badan sumeng (suhu 37'5 -37'9), keletihan di semua sendi tubuh, kelelahan (fatique) selama 2 hari. Saya masih berfikir bahwa saya pasti hanya kelelahan, karena dua pekan terakhir Out Patient Departemen tempat saya bekerja mulai diserbu banyak pengunjung lebih banyak dari biasanya karena kepanikan dengan kehadiran virus yang ditemukan pertama di Wuhan itu sudah masuk ke Indonesia.
□ 13/03, Demam 38.7, batuk pilek ringan, indra pengecap bermasalah, sakit menelan, sakit kepala (chepalgia). Akhirnya saya berobat, setelah diperiksa dokter, dokter menanyakan riwayat perjalanan kemana saja selama 14 hari sebelum muncul gejala sakit? riwayat kontak dengan suspet 2019-nCoV maupun kasus terkonfirmasi 2019-nCoV? mengunjungi pasar hewan? Dari semua pertanyaan itu, saya menjawab kegiatan saya selama 14 hari sebelum muncul gejala sakit hanya aktifitas pulang pergi ke lokasi pekerjaan, selebihnya adalah kegiatan dirumah sebagai ibu rumah tangga dan tidak pergi keluar. Kegiatan belanja rumah saja dilakukan secara online (hehehe, maklum mama muda jaman now), kegiatan ibadahpun kebetulan di 2 pekan sebelumnya absen karena piket sunday clinic. Satu-satunya point lain yang bisa dijawab dari pertanyaan dokter adalah kontak langsung dengan penunjung yang saya ceritakan di pertemuan dinas dari awal bulan Maret.
□ Setelah selesai dilakukan assesmet awal oleh dokter, dokter membuka resep untuk mulai diminum yaitu Azytromicyn 500mg, Thiamcort 4mg, Summagesic 600mg, Pantoprazole 40mg, Acetylcystein 200mg. Ujian yang lain datang, ternyata saya memiliki alergi terhadap salah satu obat yang diberikan, akhirnya terjadilah reaksi anafilaksis (alergi obat/reaksi keracunan, reaksi yang ditimbulkan saat itu chestpain dengan skala nyeri 9 dari nilai nyeri 1-10, serta muncul urtikaria / keluar pulau - pulau di kulit yang panas, merah dan gatal). Saya panik, karena dirumah hanya berdua dengan baby, sedangkan suami sedang praktek jaga malam 24 jam di kantornya. Saat itu suami sedang bertugas sendiri, dan tidak mungkin meminta teman sejawatnya malam-malam menggantikan posisi prakteknya menggantikannya. Saya ambil jalan lain, nekat malam-malam melakukan konferensi telemedicine kepada atasan saya yang seorang dokter, meminta pertimbangan untuk antisipasi tindakan mandiri yang saya lakukan dirumah. Untungnya atasan saya merespon dengan cepat dan belum tidur, beliau memberikan saran untuk menghentikan konsumsi terapi yang diberikan sementara oleh dokter, menyarankan jika masih bisa diatasi rasa nyeri dadanya dan tahan dengan urtikarianya dipakai istirahat, tapi jika tidak tahan segera datang ke Emergency Depaertement atau IGD terdekat untuk penanganan cepat. Saat itu saya teringat memiliki persediaan obat anti-alergi (golongan obat antihistamin) di meja praktek suami dirumah, lalu saya bertanya apakah kondisi darurat saat ini boleh mengkonsumsinya dalam 1 dosis, atasan saya menyetujui. 1 jam kemudian, reaksi anafilaksis teratasi. Saya pun lega.
□ 16/03, Akhirnya saya kembali berobat, menghentikan obat yang mengundang alergi dan diresepkan obat baru. Dokter juga memberikan surat istirahat dan wajib melaksanakan karantina mandiri. Tingkat keamanan APD di lingkungan rumah sakit di Jakarta mulai diperketat termasuk tempat saya bekerja, APD mulai naik level menjadi APD level 2 dan level 3. Banyak masyarakat yang berbondong-bondong datang karena syndrom simtomatik, cemas dan panik dugaan tertular karena memiliki riwayat perjalanan dari luar negeri meskipun tidak memiliki gejala-gejala khas virusnya si koko rona ini. Cek darah: CBC (complete blood count), CRP (c-reaktif protein) hasil normal. 17/03, CT Scan Lung 1, dan Hasil nya ditemukan Ground-glass opacities (GGO) di kedua paru kesan Viral Pneumonia. 18/03 Dilakukan metode Swab Polymerase Chain Reaction (PCR) pemeriksaan ini menggunakan sampel usapan lendir dari hidung atau tenggorokan. Lokasi ini dipilih karena menjadi tempat virus bereplikasi. Tanggal 18/3 dilakukan Swab PCR 1, hasil keluar tgl 25/03 pagi-pagi sekali dari manajemen kantor menelepon, hasilnya positif Covid-19. Ya Tuhan, ternyata begitu cepat replikasi virus ini.
(Foto 3: Pamit dgn Yangti & Anak pra isolasi)
□ 25/03, Isolasi RS rujukan Covid Siloam Kelapa Dua. Cek Darah: Analisa Gas Darah (AGD) untuk memeriksa fungsi organ paru yang menjadi tempat sel darah merah mengalirkan oksigen dan karbon dioksida dari dan ke seluruh tubuh. Bayangin aja Cek AGD yang dilakukan pada pasien dengan kondisi sadar penuh, sakitnya kayak apa?
Sebenarnya saat tiba di Siloam Kelapa Dua, sudah tidak ada keluhan, sama sekali tidak ada keluhan yang saya rasakan. Tetapi karena terkonfirmasi positif covid, dirumah memiliki keluarga yang memiliki kriteria resiko penularan, saya lebih aman berada ditempat ini.
□ 26/03, Swab PCR ke.2 (+), mulai terapi antibiotik, antivirus dan chloroquine selama 2 minggu. Dari semua terapi obat, menariknya adalah Chloroquine ini sangat familiar dengan pengobatan pasien malaria. Sehari saya mendapatkan dosis 600 mg perhari (4tablet), obat ini termasuk jenis obat keras, dan memiliki efek samping yg membuat saya menderita selama mengkonsumsi obat ini selama 2 minggu antara lain mual, rasa ingin muntah, kepala serasa melayang, dan oleng. Selain masalah kesehatan saya mengalami mental drop, Isolasi ketat, serangan stigma negatif dan mendapat serangan dampak stigma sosial di lingkungan tempat tinggal. Sungguh, rasanya seperti mendapat hukuman alam yang mematikan.
(Foto 4: Terapi farmakologi pengobatan)
□ Ritual Swab terus bejalan, Tanggal 29/03 PCR ke 3 hasilnya samar, antara positif dan negatif. Tanggal 04/04 dilakukan PCR ke 4 dan hasilnya positif. Tanggal 06/04 cek darah CBC dan CRP hasilnya normal. Tanggal 09/04 dilakukan ulang CT Scan Lung ke 2, hasil nya GGO masih ada, hari itu juga test PCR ke 5, hasilnya positif. Mental semakin terguncang, semakin stres membaca aktifitas Watshapp grup dan media berita covid. Mengalami harga diri rendah, jauh dari Tuhan, aktifitas senam di ruang perawatan mulai menjadi rutinitas pribadi dengan bermodal android dan aplikasi youtube. Video Call (VC) dengan keluarga dirumah hanya 1x sehari, agar tidak terbawa hati yang cemas dan mengganggu keseimbangan imunitas. Suatu hari, anak saya (2th) membuang muka saat VC dan menangis pertama kalinya karena rindu kepada maminya yang pamitnya kerja ga pulang-pulang. Hati saya kembali meleleh.
(Foto 5: Olahraga virtual sesama survivor)
□ Tanggal 15/04 PCR ke 6 dan hasilnya positif, Tanggal 20/4 PCR ke 7 dan hasilnya masih positif, Tanggal 27/04 PCR ke 8 hasilnya positif. Keluhan???? Sama sekali tidak ada!!! Tapi saya ga boleh nyerah, Kegiatan yang saya lakukan diruang isolasi adalah cuci tangan terus tiap kegiatan sekecil apapun sebelum dan setelahnya, cuci hidung dengan Larutan Infus NaCl 0.9% 30 ml per lubang hidung 3x sehari, senam - senam kecil, nyanyi-nyanyi dengan aplikasi karaoke Smule, memaksakan diri bahagia dengan cara tersendiri nonton drakor yg lucu-lucu di aplikasi ViU, HOQQ dan Vidio.com. Kegiatan mandiri untuk melawan penyakit ini, saya biasakan minum air putih 30 ml/kgBB/hr, mulai haus konseling spiritual dengan perbanyak diskusi iman dengan pemuka agama (boleh sama aktifis spiritualitas), perbanyak waktu ibadah, menghindari nimbrung atau menutup WA Grup sementara, massage relaksasi dengan Kutus-Kutus Healing Oil, perawatan wajah dan rambut (masker wajah, scrup, masker rambut, dll), mewarnai buku gambar dengan pensil warna sambil mendengarkan Streaming Radio Favorit masing-masing (kalo saya Delta FM) untuk mengurangi kejenuhan dan kegiatan monoton.
□Tanggal 28/4 CT Lung ke 3, Kesan gambaran paru GGO hilang. Tanggal 01/5 Rapid Test, ternyata hasilnya IgM & IgG reaktif. Saya mulai memperketat kebersihan hidung dan mulut. Semakin rajin kumur-kumur dan gurgle dengan Bethadine Kumur, Hisap-hisap dengan permen antiseptik strepsil, meditasi dengan latihan relaksasi nafas dalam, sambil mendengarkan Afirmasi positif rekomendasi AiF-Training nya Bapak Andyiwan Iswanto, menciptakan suasana yang nyaman sambil mendengarkan Musik Taize, dan Relaxation, jika memungkinkan berjemur, melakukan aktivitas senam sore (Combat/Muaythai/poco-poco 30 menit) by Virtual. Yang ga kalah menarik yaitu pesan makanan minuman online yg membuat susasana hati jadi semangat (ijin dulu sama dokternya tapi, boleh ga hehehe)
(Foto 6: Ruang perawatan saat masih +covid)
□ Tanggal 02/5 PCR ke 9 positif, Sebuah proses yg luar biasa panjang dan menguji kedewasaan pribadi saya saat ini banyak yang mulai menguatkan dari sesama pasien (ada yang nakes maupun masyarakat umum yg dirawat juga di Kelapa Dua). Beryukur juga banyak komunitas rohani yang mengajak berdoa dan sharing rohani. Jika mengandalkan diri sendiri, Sudah ga tau ke mana arahnya, mungkin bisa berfikir ke arah tindakan negatif karena merasa tak sembuh-sembuh (tapi untung ga berfikir sampai disana). Sampai saya hampir ada niatan untuk menulis surat wasiat untuk keluarga jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
(Foto 7: Jadwal Swab oleh dr.Niken Sp.THT)
□ 08/5 PCR ke 10 negatif, mulai timbul perasaan OPTIMIS (ini yg keliru, karena berfikir bahwa sekali swab negatif, berikutnya akan negatif juga, dan syarat pulang harus double negatif berturut-turut). Disitu sudah membayangkan beberapa hari lagi pulang dan bisa ketemu baby dirumah, suami dan orangtua.
□ 11/5 PCR ke 11, Positif. Hatiku hancur berkeping2, mental kembali down. Ditambah lagi Ditambah lagi, saat berada di isolasi itu, saya ngobrol sesama pasien, dia menceritakan bahwa selama dirawat disana hasil swab PCR nya membuat saya semakin pesimis untuk sembuh. Bagaimana tidak, 9x swab yg dialaminya hasilnya positif, positif, positif, positif, negatif, positif, positif, dan akhirnya baru negatif, negatif lalu pulang.
□ Kegiatan positif yang saya jalani membuahkan hasil, karena pengaruh spiritual yang terbentuk, menggugah hati untuk tetap setia menantikan hasil yang terbaik. Menyesal tidak mendengarkan saran dari Pak Tung Desem Waringin waktu memberikan Dirrect Message ke saya, Optimis itu pasti. Ketika terjadi yang tidak diharapkan hasilnya KECEWA. Saran Pak Tung, harus jadi orang POSITIF, siap akan ketidakpastian, Menerima Keadaan dengan Bersyukur dan tetap mau maju. Dan mulai saat itu juga, saya merubah semua pikiran saya ke arah positif. Imunitas humoral sangat berperan dalam proses penyembuhan. Jika kita sudah makan makanan sehat, minum air dg jumlah sesuai kebutuhan tubuh, vitamin dan obat teratur, kebiasaan hygine yg sehat, tapi faktor stres tidak dihindari, maka peningkatan imunitas tubuh gagal merespon.
(Foto 8: Kegiatan Spiritual sbg booster imun)
(Klik tanda play ➧ untuk memutar video)
□ Tanggal 16/5 PCR ke 12, Aku merasakan sudah biasa diambil sampel swab saking sudah terlalu banyak, sudah kebal merasakan sakitnya dikorek2 hidung hingga masuk ke tenggorokan dalam hitungan 5-8 detik, kadang tak jarang pasien yg memiliki mukosa hidung tipis sampai berdarah. Hasil swab ini tak segera keluar seoerti biasanya hingga sampai pada hari jadwal swab berikutnya baru diumumkan bahwa hasil nya negatif.
□ Kegiatan spiritual lebih ditingkatkan, karena saya seorang Katolik, saya mencoba lebih tekun dan setia dalam berdoa Rosario, Novena 3x Salam Maria, Novena Kepada Bunda Maria yang selalu menolong, Doa Jiwa Kristus bisa dibaca di Puji Syukur No 212.
□ Tiba saatnya tanggal 19/5, hingga saat itu, saya sama sekali tidak memikirkan hasil swab berikutnya akan kembali positif lagi atau double negatif. Saya serahkan semuanya kepada Tuhan, saya menerima apapun hasil yang terbaik bagi saya. Saya lebih menyibukkan diri dengan mengikuti seminar keperawatan nasional virtual.
(Foto 9: Keg.Virtual Satgas Covid-19 PPNI)
□ Tanggal 19/5 PCR ke 13, yang dirasakan hanya menanti mukjizat Tuhan. Bila Tuhan menghendaki, aku pasti sembuh. Orang tua, Suami, anak, Bapa Uskup, Para Romo Suster Bruder, Sahabat, Keluarga, teman profesi dan sejawat memberikan semangat moral kepada saya. Banyak juga dukungan kiriman makanan, barang, dan apapun yg disumbangkan oleh orang-orang baik yang tidak saya kenal berdatangan terus sebagai tanda kepedulian. Dengan kekuatan doa dan harapan merekalah yang membuat saya bertahan dan terhibur hingga saat terakhir swab ke 13.
(Foto 10: Pindah Kamar, saat Negatif 1x)
□ 20/5 Rontgen thorax PA hasil baik, Cek Darah CBC dan CRP hasil normal.
Hari yang penuh kemuliaan Tuhan, hasil dari buah kesabaran, keihklasan saya menjalani isolasi RS selama kurang lebih 2 bulan. Syukur kepada Allah atas ujian yang boleh saya lewati dan selalu didampingi oleh Tuhan sehingga proses isolasi di RS berjalan dengan lancar. Mendapat kabar hasil swab ke 13 Negatif, jadi double negatif, dan hari itu saya bisa pulang kerumah, dan melanjutkan karantina mandiri dirumah 14 hari kedepan.
(Foto 11: Gembira, obat yang paling manjur)
(Klik tanda play ➧ untuk memutar video)
□ 21/5 Membuka lembaran hidup baru, Karantina mandiri, ruang terpisah dengan keluarga, rutin cuci kedua lubang hidung dengan air infus NaCl 0.9% ( natrium klorida) sebanyak 30 cc tiap lubang hidung / bisa diganti dengan larutan air bercampur garam garam 3x sehari, kumur2 dengan air garam juga, hisap-hisap permen yang mengandung antiseptik seperti Strepsil dan Gurggle dengan Bethadine Kumur pagi dan sore sesuai saran cantik dari suami, dr. Naomi, dr.Markus, dr.Prisca dan beberapa dokter lainnya yang menjadi partner kerja di kantor. Kegiatan lain yaitu Jemur pagi hari 30 menit, olahraga 30 menit tiap hari, istirahat cukup. Melakukan aktifitas rumah dengan prinsip social distancing, pakai masker, cuci tangan berkala, minum multivitamin yang diberikan bekal dari perawatan seperti, multivitamin dan Zink (zegavit/ultravita). Dan saya menambah suplemen lain antaranya Stemcell Salmon dari Jepang yaitu AFC SOP 100+ (ada juga utsukushhii), Vitamin D3 (saya pakai NOW D3 1000 iu), Vitamin C, K tambahan seperti CDR / Redoxon. Minum air putih minimal 30 ml/kgBB/hari, susu, buah. Menyediakan waktu banyak dan khusus untuk berdoa. Jangan lupa selalu bahagia, hati yang gembira adalah obat yang paling manjur.
(Foto 12: Bertemu anak setelah lama LDR)
BAB 4
□ Saya tidak pernah menyesal dengan resiko yang saya alami sebagaimana saya seorang perawat (Ners), ini sebuah dedikasi saya sebagai tenaga ahli perawat, profesi yang sangat saya banggakan. Panggilan jiwa saya adalah melayani masyarakat. Saya senang menjadi perawat yang ikut menangani pasien, ketika pasien sembuh, itu suatu kebahagiaan.
□ Saya ingin mengajak para pembaca sekalian, bahwa covid 19 ini bisa menyerang siapa saja tanpa memandang siapa dia, tidak bisa dipastikan akan sembuh dalam 14 hari saja, karena ini adalah jenis virus baru, belum ditemukan obat yang paten dan masih dalam penelitian lanjut. Saya sendiri telah mengalami, tanpa memiliki penyakit penyerta, usia yang tergolong masih produktif, dan saya adalah seorang praktisi kesehatan yang aktif dibidangnya, menjalankan proses pemulihan di isolasi rujukan covid hampir 2 bulan. Please, corona ga sebecanda itu.
□ Saya ingin mengajak kita semua untuk ikut terlibat dalam mengurangi dampak meluasnya penularan virus Covid-19 ini. Tahan jalan-jalannya, tahan pulang kampung atau mudik dan kunjungan kerumah keluarga. Taati protokol pemerintah maupun pusat kesehatan yang ditunjuk secara resmi dalam menurunkan angka prnularan. Seharusya kita semua mengeri bahwa ini bukan permainan. Usaha para petugas medis sudah sangat berjuang disini, tak sedikit juga sebagian mereka tumbang dan mempertaruhkan hidup mereka hanya untuk menyelamatkan orang lain.
□ Sebenarnya ada cerita lain yang belum saya ceritakan disini, yaitu suami yang sempat skrining covid, dan melakukan Pindai CT Lung hingga Swab, dan karantina. Anak saya yang mendadak harus terpisah dengan kedua orang tua, dan terpaksa ditinggal berdua dengan Yangti nya yg sudah lansia dengan aktifitas terbatas. Adanya beberapa gosip tak benar yang menyebar disekitar lingkungan tempat tinggal yang membuat keluarga terisolasi, dan hal lain terkait pekerjaan ditengah pandemi dll. Tetapi semua cerita itu tidak akan saya ceritakan kembali, karena semakin mengingatkan saya kepada kepahitan hidup dan faktor tercepat yang dapat menghancurkan kekuatan imunitas humoral saya.
(Foto 13: Kata Kunci Sehat jauh dari virus)
BAB 5
□ Yuk yang sehat, jaga kesehatan. Patuhi protokol yang sudah ditetapkan. Cuci tangan, banyak kuman tak terlihat yang jahat disekitarmu. Gunakan masker jika berinteraksi dengan orang lain. Kita ga akan tau bahwa kita ini ternyata carrier atau tidak. Maskermu melindungiku, maskerku pasti melindungimu. Jangan Ndablek !! Saya sudah cukup ambyarrr dengan mendengar bertambahnya jumlah terpapar akibat ketidak disiplinan.
□ Buat yang sakit, ayo semangat, selalu berfikir Positif. Agar imunitas tubuh tetap stabil dan berkualitas, sehingga nantinya bisa meningkatkan gairah kesembuhan. Para tenaga medis adalah pertahanan terakhir, sedangkan garda terdepan adalah diri kalian sendiri.
Yang sakit, jangan takut segera berobat. Jangan bohongi tenaga medis saat mereka ingin membantu. Selebihnya, pasrahkan kepada Tuhan. Tuhan mempunyai rencana, dan rencana Tuhan selalu indah dan terbaik.
(Foto 14: Coretan saat dirawat, banyak arti)
□ Berdoa, kita ikhlaskan semua yang kita alami kepada Tuhan. Saya percaya, Tuhan akan selalu menjaga kita. Tahan mudik, pulang kerumah keluarga bisa berkali-kali, tapi jika sudah pulang kerumah Bapa di Sorga, hanya 1x, dan tidak akan bisa kembali.
Semoga kasih Tuhan menguatkan kehidupan kita semua, agar kita berbelas kasih pada sesama dan semesta. Amin
Kasih akhirnya membuat banyak orang merasakan kekuatan dan pendampingan Tuhan dalam pergumulan hidupnya : “Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya” (Yesaya 40:29). Tuhan memberkati.
Pernikahan dalam agama Katholik memeiliki bagian penting yang dianggap sakral, yakni bertukar janji pernikahan. Janji ini adalah sakramen pernikahan yang biasanya diatur oleh petugas pernikahan gereja. Tanpa prosesi pertukaran janji oleh sang pengantin, maka pernikahannya tak dapat di laksanakan.
Dekorasi
□ Pelaminan : Gebyok jawa, rencana crew jm
□ Meja Altar pemberkatan : dekorasi bunga putih /pink /peach, rencana crew jm
□ Buffet, gubug : dekorasi crew jm
□ Dekorasi resepsi : dekorasi Lia Catering & crew jm (tema red gold)
□ Dekorasi kamar : keluarga &crew jm
Salon / make up / hair do
□ Mempelai wanita : RRAS & AS
□ Mempelai pria :RRAS & AS
□ Keluarga mempelai wanita :RRAS & AS
□ Keluarga mempelai pria :RRAS & AS
□ Penerima tamu : AS
□ Among tamu : AS
□ CPW siraman : AS
□ CPW midodareni : AS
Busana
□ Baju midodareni : Mas HWJK
□ Baju pemberkatan :Mas HWJK
□ Baju resepsi: Mas HWJK & AS
□ Baju ibu + Mertua : AS & FT
□ Baju bapak + Mertua : AS & FT
□ Baju kakak / adik kandung: AS & FT
□ Baju terima tamu: belum
□ Baju keluarga: masing2
Mobil pengantin
□ Mobil mempelai : belum
□ Transportasi keluarga wanita : mobil pribadi
□ Transportasi keluarga pria mobil pribadi
□ Perijinan, keamanan & parkir tamu belum
Dokumentasi
□ Foto pre wedding : BIG Photography, R&R Photography
□ Foto liputan : BIG Photography, Kien Photography
□ Video liputan : BIG Photography
□ Foto-foto candid : BIG Photography, Kien Photography
Kartu undangan
□ Kartu undangan : Kedai Grafis
□ Ucapan terima kasih : Kedai Grafis
□ Amplop plastic : Kedai Grafis
□ Label stiker nama : Kedai Grafis
Souvenir
□ Souvenir pemberkatan : JOG
□ Souvenir resepsi: JOG & BIG Photograph
Entertain
□ MC & rundown siraman & midodareni :belum (blm tau misa/ibadat)
□ Pastor: belum tau. □Panduan Misa: PRIMA □ Mesdinar: ST HYMK. □ Perwakilan Keluarga: Buset CS
□ Saksi: Mr&Mrs.M □Lektor : Buset , Mama Woody
□ MC & rundown resepsi : Bu Suli
□ Sound system midodareni : Keluarga
□ Sound system resepsi : Bu Suli
Catatan Sipil
□ Daftar berkas : On Progress
□ Penataran: belum
Lain – lain
□ Cincin : On Progress
□ Buku tamu : Lia Catering
□ Alat tulis: Lia Catering
□ Kotak angpao : Lia Catering
□ Tempat souvenir :Lia Catering
Tim pendukung
□ Panitia : teman-teman & Keluarga
□ Hitung jumlah piring catering : belum
□ Terima tamu : Ratih, Puspa, □Among Tamu: Para Sesepuh
□ Pembawa cincin : Best Friend Ndut 1/2 □ Pengapit: Tasya, Indira, Woody, Handoyo. □Penginapan Crew panitia & Keluarga: Laksana Hotel & Kencana Hotel
Married??siapa sih yang kaga ingin menikah? Cewe seperti saya juga ingin menikah, merencanakan masa depan dengan keluarga baru yang dibentuk, menjadi ayah, ibu dan memiliki anak yang diasuh. Pernikahan merupakan salah satu moment yang penting dalam hidup semua orang. Tentu ga gampang untuk menciptakan moment ini sebagai momen istimewa dalam sejarah hidup. Proses dalam menuju moment ini sangat rumit dan penuh perjuangan.
Lamaran, Yah!!!Lamaran merupakan langkah awal dari langkah lanjutan (pra nikah) dari perkenalan yang sudah saya alami bersama pasangan saya (kekasih). Proses lamaran ini sendiri sebenarnya dalam adat jawa yang kental dengan budaya dan adatnya terdiri dari 3 macam, yaitu: Lamaran Informal, Lamaran Semi formal (tembungan), dan Lamaran Formal (peningsetan). Lamaran yang saya alami pada saat ini adalah lamaran jenis yang Semi Formal, atau Tembungan.
Saat ini saya ingin menceritakan kisah saya saat proses lamaran ini terjadi. Jauh hari sebelum menggelar acara ini, saya dan pasangan saya mulai memikirkan masa depan kami dengan berbincang secara dewasa dan serius. Kisah ini dimulai dimana pada tanggal 14 di bulan ke 14, sejak kami berdua memutuskan untuk berkomitmen pada bulan Mei 2013. Pertemuan berdua saat itu mengingatkan kami dengan iman katolik yang kami imani, yaitu Keluarga Kudus Nazareth. Kami berdua merasa, bahwa sebagai pasangan kekasih, kami berdua juga menginginkan kesetiaan terhadap pasangan bukan hanya sebagai kekasih, tetapi mengangkatnya di atas altar dan mengikrarkan janji suci pernikahan dalam sakramen pernikahan yang kudus dan suci dengan segudang perbedaan yang melekat dalam diri kami berdua yang selama ini kami jalankan secara berdampingan: mulai dari perbedaan keyakinan yang sudah kami seragamkan, pengenalan dua etnis yang berbeda dari thionghoa dan javanes, adat istiadat dan pola pikir keluarga, serta kebiasaan .
Kesetiaan hidup berkeluargabukan hanya soal suami-istri yang tidak bercerai atau pisah ranjang karena dalam basis pernikahan katolik adalah monogam/tak terceraikan. Maria dan Yusuf merupakan contoh yang sempurna sebagai keluarga dalam pasangan suami istri yang disukai Allah. Saya dan pasangan pun dapat melakukan hal yang sama, jika kami menempatkan cinta kasih Allah sebagai dasar hubungan cinta kasih kami kepada keluarga yang akan kami bangun.
Keluarga adalah tempat persemaian cinta kasih Allah, taburan benih cinta mendapat ruang pertumbuhan yang paling nyaman, Dasar diatas membuat saya dan pasangan untuk berani maju dalam melangkah memperjuangkan hubungan kami berdua yang direncanakan dimana hari yang terapit oleh nuansa natal dan nuansa pesta keluarga kudus, tepat 19 hari setelah kekasih saya pembaharuan dalam janji baptisnya dari protestant ke katolik.
Menggelar acara lamaran semi formal ini pertama kalinya saya mengalaminya, sebelumnya saya belum pernah mengikuti acara lamaran kedua kakak kandung saya, sehingga saya tidak ada gambaran sedikitpun bagaimana acara ini akan berlangsung karen acara ini diadakan dari dua pihak yang berbeda etnis dan kebudayaan. Pada acara lamaran ini, calon mempelai pria datang sesuai konfirmasi waktu yang telah ditentukan sebelumnya didampingi oleh kedua orang tua, kerabat orang tuanya dan saudaranya (adik kandungnya) dengan membawa oleh-oleh lamaran yang bernuansa chinese. Pada tahap ini saya tidak diperkenankan keluar dari kamar (huhuhu kayak dipinang), kemudian saya keluar ketika kedua calon merua saya berbincang-bincang dan bersilaturahmi kepada keluarga saya untuk ijin melamar saya. Saya menuangkan teh dan memberikannya langsung kepada calon mertua saya, kerabat mertua, orang tua saya dan kedua kakak saya sebagai wali alm.bapak saya. Saat itu saya baru bertemu dengan calon mempelai lak-laki saya.
(Deg..deg...an sih...abis kayak mimpi gitu karena acaranya adalah Lamaran). Dalam menggelar acara ini diadakan proses lamaran, yaitu saya ditanya oleh orang tua saya dan calon mertua saya apakah serius dengan hubungan kami dan mau untuk menikah ? Ketika saya sudah mau dipinang, kemudian diadakan acara "diiket" dimana Ibu dari calon mempelai laki-laki mengikatkan perhiasan berupa kalung kepada saya sebagai calon pasangan dari anak pria nya. Setelah itu kami berdua ditanya tentang kapan kami akan melangsungkan pernikahan. Senang, gembira, deg-degan, semua jadi satu... Gak tau harus jawab apa?? Semoga jawaban dari kami berdua, dan rencana selanjutnya akan jauh lebih indah. Semoga Tuhan Yesus memberkati niat baik kami berdua. Amin.
tangisanku merupakan suatu harapan dari sebuah ingatan..
aku benar-benar tidak mengerti. setelah sekian lama aku merawat dan menjaganya sepenuh hati.
menjadikan dia supaya menikmati hidup dengan penuh arti. Aku tak mampu menahan pedihnya luka ini. Hingga akhirnya aku pasrah diri. Mugkin suatu saat nanti dia akan mengerti, dia akan menyesali atas sikapnya yang telah menyakiti. Itupun jikalau ia masih memiliki hati nurani. Jogjakarta- Mathew Room, 08 Juli 2013
Tuhan Yesus,
benarkah yang kulihat ini?
Semua tersapu dengan sekejap,
Tenggelam ataupun telah hilang terseret air.
Bagaikan lautan baru yang muncul dengan cepat,
Gemuruh suara rakyat yang menangis kuat.
Memecahkan suasana hati, kepiluan masyarakat.
Tuhan Yesus,
benarkah yang kulihat ini?
Semua tersapu dengan sekejap,
Tenggelam ataupun telah hilang terseret air.
Bagaikan lautan baru yang muncul dengan cepat,
Gemuruh suara rakyat yang menangis kuat.
Memecahkan suasana hati, kepiluan masyarakat.
Bunda Maria,
ketika aku mengenal J A K A R T A ,
dimana orang berbondong-bondong menjadikannya tempat penjelajah... terdapat orang jenius, pintar, cerdas, bodoh, miskin, kaya
terdapat orang baik, jahat, warga indonesia maupun mancanegara
terdapat beranekaragam suku, budaya, bahasa, dan agama,
terdapat sesuatu yang halal maupun yang haram
Ohh Santa Theresia,
Aku ingin bercerita kepadamu:
Saat banjir Januari 2013 menyambut Jakarta,
Pluit, RS Atma Jaya pun tak luput dari banjir.
Siaran radio, televisi, koran, blackberry....
Semuanya membahas tentang banjir Jakarta.
Oh Yesus, Maria, Yosep..
Aku teringat saat2 aku bersama, menjadi keluarga di RS Atma Jaya selama 24 bulan.
Aku teringat bagaimana pondasi SDM, Bangunan, serta peralatan medis yang ada
Aku terpaku, menangis, dan iba saat melihat sekeliling RS AtMa Jaya terkepung banjir
Akses RS Atma Jaya, benar2 lumpuh.
Tuhan,
Ketika aku mebaca isi status BBM, Facebook, ataupun Twitter Rekan2 di Atmajaya....
Ungkapan dari Para Dokter, Dokter Muda, Perawat, Ahli kesehatan lain, dan kerabat lain yang berada di RS Atmajaya,
Hatiku ikut lumpuh, seolah menyalahkan diri karena meninggalkan mereka disana...
dan aku, jauh di Yogyakarta.
Allahku yang maha kuasa...
Aku sangat yakin
Semuanya pasti baik2 saja...
Jakarta,.............
Atma Jaya....................
Aku tahu kalian pasti bisa melewatinya.
Teman2ku,
Bersabarlah, Jangan Getir Hati..
Inilah saat dimana pelayanan yang sesungguhnya,
demi kemanusiaan, saat musibah kembali terjadi...
yang terjadi pada kalian sendiri selain para pasien korban banjir.
tanpa memandang siapa korbanya,
disini aku tetap berdoa,
dan menanti kabar baik dari kalian semua,
Jaga kesehatan kalian baik2 disana,
Semoga bantuan akan terus datang tanpa henti,
untuk segala yang kalian butuhkan saat ini....
Love You Jakarta
Love You RS Atma Jaya & FK Atma Jaya
Love You All...
Theresia Endah Purnomo Sarie., AMK
Yogyakarta, 22 januari 2013.
Bila hatimu terasa berat hadapilah dengan senyum. Bila bebanmu terasa berat hadapilah dengan senyum. Bila imanmu terasa goyah hadapilah dengan doa. Bila terangmu terasa redup panggilah nama Kristus.
Depot Prakata
Shaloom, Selamat datang di Blog Theresia Endah Purnomo Sarie, Blog ini berisi karya-karya kecil yang di tulis untuk meneteskan memory kejadian, perasaan, atau suka cita, dan duka diri secara positif dan reflektif.