Aku Datang Sesuai Hirarki, Pulang dengan Luka?
Setidaknya aku telah berjalan sesuai jalur yang diajarkan, menghormati tata, menjaga sikap, menundukkan ego agar tak lebih tinggi dari iman.
Jika di tempat terdekat tak kutemukan celah cahaya, itu bukan akhir dari terang.
Harapan tidak hanya tinggal di satu ruang, tidak pula berakar pada satu nama. Ia bisa tumbuh di tanah yang lebih jauh, di tangan yang berbeda, di hati yang mungkin lebih lapang.
Dan aku tetap berdiri, tanpa penyesalan, karena aku tahu, aku telah mencoba dengan benar.

4 comments:
Ini ceritanya tentang apa ya, Kak? Aku bisa merasakan ada kekecewaan, tapi juga ketegaran. Pengin tahu lanjutannya, apakah akhirnya menemukan “tanah yang lebih jauh” itu?
Aku pernah di posisi ini: sudah mengikuti jalur, sudah menghormati atasan dan aturan, tapi pintunya tetap tertutup. Yang menguatkan dari tulisan ini adalah pengingat bahwa tertutupnya satu pintu bukan berarti dunia berhenti. Semoga penulis menemukan tempat yang lebih lapang. Semangat ya.
Kena banget di bagian “harapan tidak berakar pada satu nama”. Pelan, tapi menguatkan.
Judulnya sudah langsung menarik perhatian: ada tanda tanya di ujungnya, seolah penulis sendiri belum yakin apakah ia sedang kecewa atau sedang berdamai. Saya suka kalimat “menundukkan ego agar tak lebih tinggi dari iman”, padat dan menggambarkan sikap tanpa perlu menjelaskan panjang. Pilihan nada yang teduh juga membuat tulisan ini terasa dewasa, tidak berubah menjadi keluhan. Satu masukan kecil: latar kejadiannya sengaja dibuat samar, dan itu efektif, tapi satu detail konkret saja (suasana pintu yang diketuk, atau jawaban yang diterima) bisa membuat pembaca lebih terhubung. Terima kasih sudah menulis dengan setenang ini.
Posting Komentar